Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

7.05.2014

Happy untuk Bahagia

Tulisan ini saya dedikasi untuk salah satu guru, kawan juga sekaligus kakak untukku. Iya, sebelumnya aku pernah menulis untuk dia di blog ini, jadi ini kali kedua aku mendedikasikan tulisanku untuknya. Aku masih ingat tulisan pertamaku untuknya kutulis dalam rangka hari lahirnya dan kali ini merupakan salah satu hari istimewa lain dalam hidupnya. Mungkin tepat di tanggal dan bulan ini adalah hari paling istimewa untuknya. Tepat di mana ia sepenuhnya memiliki wanita yang ia pilih untuk mendampinginya, ibu dari bidadari kecilnya, teman dan sahabat abadinya. Betapa ia sangat beruntung kala itu, kalau kita sudah bertemu saat itu pasti aku melihat senyum sangat cerah dari wajahnya begitupun dari wanita pilihannya. Tepat delapan tahun yang lalu hari itu semua bahagia, melihat mereka yang serasa memiliki dunia berdua. Sungguh memikirkannya saja aku bahagia. Mungkin aku tak banyak menulis dalam tulisan manis kali ini. Namun dalam tulisan ini aku tulus mengucapkan 'Selamat ulang tahun pernikah untuk dua orang keasayangan' @penagenic dan @vitanyit . Aku berdo'a segala kebaikan semesta selalu menemani perjalanan kalian. Jangan lupa seperti selalu dikatakan mas Pen, "Jangan lupa bahagia, karena bahagia itu wajib." 😆

4.07.2014

Tentang Hujan

Hujan turun menggebu-gebu, seraya datang mengetuk pintu membawa rindu. Aku tak ingin menemui, namun seolah mereka tak peduli.

Ialah mereka; menjajah pikiranku ---perlahan tapi pasti dengan segala bayangan.

Bayangan akan kenangan dan harapan, dibalutnya dalam do'a ---mesra tanpa ragu. Hujan mengajariku tetap pada keyakinanku.

Tanpa harus malu menerima rindu yang tak pernah jemu. Hanya ada angguk serta setuju tuk tetap menuju pada jalan itu.

Ya, jalan itu ---terlihat semu namun nyata bagiku. Apa mata dan hati ini tertutup sesuatu? Sehingga tak pernah ada kata salah jalan untukku.

Ah, jangan rayu aku dengan jalan lain yang lebih mudah kulalui, aku tak apa. Di jalan ini hujan mengajariku segala hal.

Membuatku memahami apa itu tabah. Tentu saja aku tak berpotensi mendapatkan nilai A, paling tidak kurasakan itu ada.

Terima kasih hujan, meski sakit tapi inilah yang aku butuhkan. Mungkin benar, ego harus bertemu dan bertarung dengan sabar.

Aku hanya seorang perempuan yang kau tuntun berbasah-basahan, kau seret dalam sejuknya dirimu.

Meski menggigil oleh dinginmu masih kurasa hangatmu, sebab aku tahu kau selalu melihatku tanpa perlu turun langsung ke hadapanku.

Tak berhenti kuucapkan, terima kasih hujan. Syukurku padaNya kau dihadirkan, menuntunku ke mana aku seharusnya, dalam dingin dan hangatmu.

3.31.2014

Rumah Baru, Keluarga Baru


Mana yang lebih puisi dari pembaringan rumah baru
Rumah indah bercat empat warna cerah itu
Sederhana, tak mahal pun tak mewah
Nyaman dan menentramkan jiwa

Disana kutemui hangat penghuninya
Berlatar belakang berbeda namun memiliki senyum yang sama
Mereka tak segan berbagi kebahagiaan
Lengkap bersama kesedihan untuk pembelajaran

Tiap berkunjung di sana seakan waktu berjalan cepat
Waktu serasa tidak pernah tepat
Sebab, hanya kurasakan damai dan syahdu
Melepas tumpukan rindu yang memenuhi kalbu

Keluarga, ya mereka keluarga baruku
Kata kenalan dan teman tak cukup sampai di situ
Mampu menjelma sebagai guru berbagai ilmu
Bertambah bahagia terucap dalam rasa syukurku